Virus Corona

Jika Vaksin Tidak Ditemukan, Corona Bisa Menjadi HIV/AIDS Kedua

Kasus yang sudah hampir mendekati 4 juta tersebut hingga kini masih belum ditemukan vaksin untuk menghentikannya.

Editor: Geafry Necolsen
Shutterstock
sampel darah virus corona 

Jika Vaksin Tidak Ditemukan, Corona Bisa Menjadi HIV/AIDS Kedua

Mewabahnya Virus Corona membuat para ilmuan bekerja menemukan vaksin untuk menghentikan terjangkitnya covid-19.

Sejak pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada Desember 2019 lalu, hingga kini kasus Virus Corona masih meningkat.

Dikutip dari Worldmeter.info, hingga Kamis (7/5/2020), kasus Virus Corona di dunia mencapai 3.846.924 kasus.

Kasus yang sudah hampir mendekati 4 juta tersebut hingga kini masih belum ditemukan vaksin untuk menghentikannya.

Kabar tersebut tentunya menakutkan bagi penduduk dunia.

Hal tersebut lantaran WHO menjelaskan bahwa harapan terbesar agar Virus Corona ini bisa hilang adalah dengan menemukan vaksin.

Sehingga banyak sekali penelitian untuk menemukan vaksin Virus Corona ini.

Semua pakar dan ilmuan di seluruh dunia berlomba-lomba untuk menemukan vaksin covid-19 secepat mungkin.

Dilansir oleh CNN, para ilmuan mengungkapkan bahwa vaksin tersebut kemungkinan memang tak akan bisa tercipta dalam waktu dekat.

Vaksin biasanya dibutuhkan waktu minimal dua tahun hingga proses pengesahan.

Lantas muncul pertanyaan "apakah yang akan terjadi jika wabah Virus Corona ini tak bisa dihentikan?".

Pertanyaan tersebut mengungkapkan pertanyaan dari orang seluruh dunia.

Para ilmuan mengungkapkan bahwa kemungkinan terbesar yang akan terjadi adalah, manusia harus terbiasa belajar hidup berdampingan dengan virus ini.

Saat ini pengujian dan penyelidikan seorang sumber mengatakan, virus ini dapat menjadi hal normal dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, dengan konsekuensi serius, ada beberapa orang yang bisa berakibat fatal jika terinfeksi virus ini.

"Ada beberapa virus berbahaya di dunia, dan kami belum menemukan vaksin untuk virus lainnya," kata David Nabarro, seorang profesor dari Imperial College London dikutip dari CNN.

"Sejauh ini belum ada yang bisa mengembangkan vaksin begitu cepat, hanya dalam waktu 12-18 bulan," ujar Dr Peter Hotez, kepala departemen kedokteran tropis di Baylor College of Medicine Houston, AS.

Kemudian, kami ambil kasus pada kasus lain, misalnya tahun 1984, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS menemukan virus HIV.

Hampir empat dekade kemudian, lebih dri 32 juta orang meninggal karena terinfeksi HIV, dan hingga kini vaksinnya juga belum ditemukan.

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved