Virus Corona

Dituduh Curi Data Vaksin Corona, China Ungkap Amerika Pernah Terlibat Pencurian Besar

China langsung merespons dengan menyebut Amerika Serikat melakukan penodaan setelah mencuri data mengenai vaksin Virus Corona.

Editor: Geafry Necolsen
Shutterstock
Ilustrasi: Paket dari China 

"China menyuarakan ketidakpuasan yang amat sangat dalam dan menentang adanya penodaan ini," ujar Zhao kepada awak media di Beijing.

"Merujuk kepada masa lalu, justru AS-lah yang sudah menggelar operasi pencurian siber terbesar yang terjadi di seluruh dunia," lanjutnya.

Zhao menekankan, Negeri "Panda" sudah mendapatkan hasil yang begitu signifikan dalam upaya mereka mencegah wabah Virus Corona.

Dia mengklaim, justru Beijing yang terdepan dalam pengembangan vaksin covid-19. Karena itu, seharusnya mereka yang takut jadi target Washington.

Zhao menuturkan pemerintahannya sudah mencegah adanya peretasan siber, dan meminta agar negara lain mengutuk adanya upaya itu di tengah pandemi.

Sang juru bicara kemudian menanggapi kicauan Presiden AS Donald Trump di Twitter yang menyebut corona sebagai "Wabah dari China".

Menurut Zhao, seharusnya Donald Trump berhenti terus mendiskreditkan negaranya. Dan fokus saja terhadap penanganan virus di negara mereka.

Pertama kali terdeteksi di Wuhan pada Desember 2019, wabah tersebut kini sudah menyebar dengan menjangkiti lebih dari 4,4 juta orang di seluruh dunia.

Virus Corona dengan nama resmi SARS-Cov-2 tersebut juga membunuh hampir 300.000 orang, dan membuat ekonomi dunia berada dalam kelumpuhan.

Tuduhan FBI

Sumber: Tribun Kaltim

Halaman selanjutnya

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (AS) atau 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved