Corona Virus

11 Mitos tentang Virus Corona yang Tak Usah Dipercaya Lagi

Berikut adalah 11 mitos atau rumor yang salah terkait wabah Covid-19 dan sebenarnya bisa berbahaya.

Editor: Geafry Necolsen
Shutterstock
sampel darah virus corona 

11 Mitos tentang Virus Corona yang Tak Usah Dipercaya Lagi

TRIBUNKALTIM.CO, WIKI - Wabah Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 telah menginfeksi hampir 90.000 orang di seluruh dunia.

Pada Senin (2/3/2020), Presiden Jokowi mengonfirmasi dua kasus Covid-19 baru di Indonesia. Seiring dengan pemberitaan tersebut, aneka kabar burung menyebar luas di dunia maya.

Sayangnya, banjir informasi tanpa henti ini kadang sulit untuk memisahkan antara fakta dan mitos.

Berikut adalah 11 mitos atau rumor yang salah terkait wabah Covid-19 dan sebenarnya bisa berbahaya, seperti dilansir Live Science, Sabtu (29/2/2020).

1. Mitos: Masker wajah dapat melindungi diri dari virus

Warga Cina kenakan masker untuk lindungi diri dari penyebaran virus corona.
Warga Cina kenakan masker untuk lindungi diri dari penyebaran virus corona. (AFP)

Penting diketahui, masker bedah standar tidak dapat melindungi diri dari SARS-CoV-2. Pasalnya, masker wajah tidak dirancang untuk memblokir partikel virus untuk mengenai wajah.

Namun, masker dapat membantu mencegah orang yang terinfeksi menyebarkan virus ke orang lain dengan memblokir percikan partikel pernapasan yang dikeluarkan dari mulut.

Ini artinya, tidak semua orang perlu mengenakan masker. Dilansir dari laman Forbes, spesialis pencegahan infeksi Eli Perencevich, MD, seorang profesor kedokteran dan epidemiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Iowa, mengatakan bahwa orang sehat tidak membutuhkan masker wajah jenis apa pun.

"Rata-rata orang yang sehat tidak perlu memakai masker. Tidak ada bukti bahwa memakai masker pada orang sehat akan melindungi diri dari virus," kata Perencevich.

Perencevich pun mengatakan, pemakaian masker yang salah seperti sering menyentuh wajah saat memakai masker dapat meningkatkan risiko infeksi.

Perencevich menjelaskan, banyak orang membeli masker dengan asumsi menghentikan virus mencapai mulut atau hidung mereka yang tersebar melalui udara.

Padahal, virus corona ditularkan melalui tetesan, bukan melalui udara.

2. Mitos: Kecil kemungkinan kena virus SARS-CoV-2 

Belum tentu. Para ilmuwan telah menghitung angka reproduksi dasar atau disebut R0 (diucapkan R-nol). R0 memprediksi jumlah orang yang dapat tertular virus dari satu orang yang terinfeksi.

Saat ini, R0 untuk SARS-CoV2--virus penyebab penyakit Covid-19--diperkirakan sekitar 2,2. Artinya, satu orang yang terinfeksi dapat menginfeksi sekitar 2,2 orang lainnya.

Sebagai perbandingan, flu biasa memiliki R0 1,3. Selagi tidak ada vaksin untuk mencegah Covid-19, ahli mengatakan bahwa vaksin flu musiman untuk mencegah influenza relatif baik, meski formulasinya tidak cocok dengan strain virus yang beredar.

3. Mitos: SARS-Cov-2 hanya virus flu biasa yang bermutasi

Sampel darah dari pasien corona
Sampel darah dari pasien corona (Shutterstock)

Pernyataan ini sangat salah. Virus corona adalah keluarga besar virus yang mencakup banyak penyakit berbeda. SARS-CoV-2 memang memiliki kesamaan dengan virus corona lain, empat di antaranya dapat menyebabkan flu biasa.

Kelima virus itu memiliki proyeksi runcing pada permukaannya dan memanfaatkan apa yang disebut protein lonjakan untuk menginfeksi sel inang.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
528 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved