Otomotif

Apa Itu Ban Suntikan? Kenapa Mobil Dilarang Pakai Ban Jenis Ini?

Seperti kita ketahui, ban menjadi bagian yang sangat vital dalam keselamatan berkendara. Maka dari itu, kondisinya harus benar-benar bagus.

Editor: Geafry Necolsen
net
Perbedaan ban layak pakai dan tidak. 

Apa Itu Ban Suntikan? Kenapa Mobil Dilarang Pakai Ban Jenis Ini?

TRIBUNKALTIM.CO, TRAVEL - Akhir-akhir ini sedang marak pemakaian ban suntikan dan ban vulkanisir demi menghemat pengeluaran. Terutama bagi para pengguna mobil.

Seperti kita ketahui, ban menjadi bagian yang sangat vital dalam keselamatan berkendara. Maka dari itu, kondisinya harus benar-benar bagus dan masih layak digunakan.

Akan tetapi, tidak sedikit yang masih mengesampingkan kondisi ini. Misalnya, tetap menggunakan mobil, meskipun kondisi ban sudah tipis.

Bahkan ada juga yang nekat menggunakan ban suntikan atau siletan untuk mengakali kondisi permukaan yang sudah menipis.

Ban suntikan sendiri, yakni pembatikan ulang pada kembangan ban yang sudah halus. Cara ini dilakukan secara manual menggunakan alat khusus yang biasa digunakan.

Ban suntikan ini juga dijual bebas di pasaran dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan ban pada umumnya.

Rekondisi ban mobil
Rekondisi ban mobil (ANTARA FOTO)

Padahal penggunaan ban suntikan ini sangat tidak disarankan, karena bisa berbahaya bagi keselamatan.

On Vehicle Test (OVT) Manager PT Gajah Tunggal, Zulpata Zainal menyampaikan, penggunaan ban suntikan ini cukup riskan.

Sebab, dalam membuat kembangan ban dilakukan secara manual dan tanpa perhitungan yang matang.

Pembuatan ini hanya mengikuti bekas kembangan yang sudah ada. “Ban suntikan ini cukup riskan, kalau sayatannya pas tidak masalah, suntikan ini kan didalemin sedikit kalau sayatan tidak pas bagaimana," kata Zulpata 

Zulpata melanjutkan, jika tidak tepat justru akan bisa mengenai lapisan belt dari ban. Padahal sisa karet bagian dalam telapak ban sangat tipis dan hanya beberapa milimeter saja.

“Sisa karet bagian dalam telapak ban ke bagian belt sangat sedikit sekali, paling juga beberapa milimeter saja, jadi lebih banyak resikonya gitu,” ucapnya.

Akibat kondisi itu, bukan tidak mungkin ban akan pecah saat digunakan. Sehingga, penggunaan ban suntikan sangat tidak disarankan demi keselamatan.

Jika kondisi ban sudah aus, sebaiknya dilakukan penggantian dengan yang baru sehingga keamanan dan kenyamanan berkendara akan lebih terjamin.

Kenali Beda Ban Vulkanisir dan Suntikan

Ban Mobil
Ban Mobil (net)

Daur ulang ban yang biasa dikenal selama ini ada dua jenis, yakni dengan cara vulkanisir atau regroovable dan cara disilet atau suntikan.

Kedua jenis pembaruan pada ban itu terdapat sejumlah perbedaan. Jika ban vulkanisir merupakan ban yang tapaknya diganti total dengan tapak yang baru.

Sedangkan dinding ban masih menggunakan ban yang lama.

Sedangkan untuk ban siletan atau suntikan adalah membuat alur baru pada ban secara manual menggunakan alat khusus atau seperti disilet.

Hal ini dilakukan karena kondisi ban sudah mulai menipis dan kembangan ban sudah mulai dangkal.

On Vehicle Test Manager PT Gajah Tunggal Tbk Zulpata Zainal, menjelaskan, dari dua jenis pembaruan tersebut ada pertimbangan masing-masing.

"Untuk ban vulkanisir atau regroovable biasanya hanya dilakukan pada ban kendaraan commercial, seperti bus, truk, pikap, dan yang lain," katanya.

Hasil dari vulkanisir ban ini kata Zulpata bisa lebih baik dari kondisi ban sebelumnya karena telapak ban sudah halus.

Dengan catatan kondisi dinding ban masih bagus dan layak digunakan. Di samping itu, ban yang akan divulkanisir hanya dilakukan pada ban yang mempunyai tanda berupa tulisan regroovable pada dinding ban.

Dengan adanya tanda tersebut memastikan bahwa vulkanisir aman dilakukan. Tetapi, jika ban tidak terdapat tulisan regroovable sebaiknya tidak dilakukan vulkanisir karena bisa berbahaya. 

"Keamanan ban vulkanisir baik, malah direkomendasikan oleh pabrikan ban, khususnya ban commercial, misal ban truck, bus , pick up, dengan syarat kualitas dari vulkanisir nya bagus," ucapnya.

Zulpata menambahkan, vulkanisir adalah mengganti total telapak ban dengan telapak ban yang baru. Dan hanya menyisakan casing atau dinding ban saja.

"Tapi casing ban yaitu bagian dinding ban dan bagian yang menempel tidak perlu diganti. Kalau istilahnya hanya ganti bajunya saja, tapi casingnya tetap," ujarnya.

Tetapi, lanjut Zulpata, untuk ban suntikan memang tidak disarankan. Meskipun selama ini banyak yang melakukannya.

"Kalau ban yang suntikan cukup riskan. Iya kalau sayatannya pas, tidak masalah. Tetapi jika sayatannya tidak pas, justru bisa menjadi masalah," ucapnya.

Selain itu, kata Zulpata, tidak menutup kemungkinan justru akan membahayakan pengguna. Mengingat, ban suntikan dilakukan dengan mendalamkan kembangan ban secara manual.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved