Faktanya

Benarkah Garam Tidak Boleh Dimasak karena Berubah Jadi Racun?

Banyak yang percaya garam bisa berubah menjadi racun apabila diolah dan dimasak.

Editor: Geafry Necolsen
HelloSehat
Ilustrasi: Garam 
Benarkah Garam Tidak Boleh Dimasak karena Berubah Jadi Racun?

TRIBUNKALTIM.CO, WIKI - Semakin hari, semakin banyak isu mengenai kesehatan maupun makanan yang disebarluaskan melalui media sosial.

Salah satunya adalah isu bahwa garam tidak boleh dimasak. Banyak yang percaya garam bisa berubah menjadi racun apabila diolah dan dimasak.

Wah, apa mungkin kandungan garam akan berubah menjadi racun saat dimasak? Tenang, ini dia ulasan lengkapnya.

Apa sebenarnya kandungan garam dapur?

Garam
Garam (Shutterstock)

Garam adalah sumber makanan terbesar yang menyediakan mineral bernama natrium untuk tubuh. Garam sering disebut juga dengan natrium klorida sebab garam terdiri dari 40 persen natrium, dan 60 persen klorida.

Kandungan garam ini adalah mineral yang bertindak sebagai elektrolit penting dalam tubuh.

Mineral-mineral ini membantu menjaga keseimbangan cairan, fungsi saraf, dan fungsi otot tubuh secara keseluruhan.

Maka itu, sangat penting untuk mendapatkan asupan garam dalam makanan sehari-hari Anda, tapi jangan sampai berlebihan.

Terlalu banyak mengonsumsi garam dapat meningkatkan risiko mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi) dan penyakit jantung.

Apa yang terjadi saat garam dimasak? Apa benar berubah jadi racun?

Ilustrasi memasak di dapur
Ilustrasi memasak di dapur (Shutterstock)

Garam adalah kumpulan dari zat mineral. Memasak tidak mengurangi kadar mineral dalam makanan dalam jumlah yang besar.

Kalaupun berkurang, jumlahnya pun tidak terlalu banyak. Mineral dalam makanan yang biasanya tidak dipengaruhi oleh proses memasak yakni kalsium, natrium, yodium, besi, zinc, mangan, dan kromium.

Betulkah garam tidak boleh dimasak?

Memasak garam tidak akan mengubah mineral ini menjadi racun. Seperti yang sudah diulas sebelumnya, kandungan garam adalah mineral.

Mineral ini tidak berubah menjadi racun atau zat berbahaya selama garam tersebut memang dibuat dengan bahan yang aman, tidak diberikan campuran tertentu oleh produsennya.

Maka, isu bahwa garam tidak boleh dimasak merupakan hoaks yang tidak terbukti kebenarannya.

Kapan sebaiknya memasukkan garam dalam makanan?

Ilustrasi
Ilustrasi (net)

Paul Breslin, seorang profesor dari Departemen Ilmu Gizi Rutgers University mengatakan bahwa untuk memasak, sebaiknya bubuhkan garam sedikit pada awal masak, kemudian masukkan lagi nanti pada akhir proses memasak.

Ketika garam dimasukan dari awal proses pemasakan, garam akan langsung berikatan dengan protein yang ada dalam makanan. Selanjutnya, akan terbentuk ikatan molekul yang besar.

Namun, ikatan molekul besar ini hanya sekadar menambahkan kadar natrium yang meresap ke dalam makanan saja, sedangkan rasa asinnya pun tidak begitu terasa.

Maka, lidah Anda merasa masakan tersebut kurang asin, akhirnya ditambahkan garam lagi hingga rasanya cukup asin. Kalau sudah begini, Anda bisa jadi mengonsumsi garam berlebihan.

Oleh karena itu, pemberian garam sebaiknya dibagi dua kali. Anda tetap membutuhkan garam pada proses awal masak dan juga di akhir.

Kemudian, pada akhir proses pemasakan, masukkan garam secukupnya. Dengan cara membagi ini, makanan akan terasa lezat, dan mencegah konsumsi darah yang cara itu.

Selain dari waktunya, Anda juga bisa mengolah makanan berdasarkan jenis makanan apa yang akan Anda masak. Sebagai contoh:

  • Saat memasak daging sebaiknya tambahkan daging pada bagian awal. Ketika daging dimasak, sel-selnya cenderung akan menutup dan mengerut sehingga daging akan lebih sulit untuk menyerap rasa. Oleh karena itu, sebaiknya tambahkan garam ke daging mentah bersama bumbu lainnya sehingga semua rasa bisa diserap dengan baik pada masakan.
  • Saat menumis sayuran, jangan lupa tambahkan garam pada akhir proses memasak Anda untuk mendapatkan tekstur sayuran yang masih renyah dan tidak lembek. Garam cenderung menarik kelembapan dari sayuran. Maka itu, jika Anda menambahkannya di awal, maka sayuran akan lebih cepat layu dan basah.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved