Sejarah

Kisah Fatmawati, Teteskan Air Mata Saat Menjahit Merah Putih

Fatmawati mendapatkan tugas untuk menjahit bendera Merah Putih. Sejumlah kutipan Fatmawati yang cukup heroik ditulis oleh Bondan Winarno (2003).

Kisah Fatmawati, Teteskan Air Mata Saat Menjahit Merah Putih
Kompas
Ibu Fatmawati ketika sedang menjahit bendera Merah-Putih yang akhirnya menjadi Bendera Pusaka, bulan Oktober 1944 

Kisah Fatmawati, Teteskan Air Mata Saat Menjahit Merah Putih

TRIBUNKALTIM.CO, WIKI - Bung Karno tidak dapat mempertahankan rumah tangganya dengan Inggit Garnasih. Keduanya resmi bercerai pada 1943. Selanjutnya Bung Karno menikahi Fatmawati dengan cara yang unik.

Saat itu keduanya menikah dengan cara perwalian. Bung Karno berada di Jawa dan Fatmawati berada di Bengkulu.

Fatmawati menikah dengan wakil Bung Karno, Opseter Sarjono, pada 1 Juni 1943. Setelah prosesi pernikahan itu, Fatmawati dibawa ke Jakarta.

Sejarah Empat Serangkai: Tokoh, dan Kiprahnya

Perang Dunia Pertama, 9 Juta Orang Tewas, Apa Pemicunya?

Perang Dunia II, Faktanya Tidak Semua Pilot Kamikaze Rela Bunuh Diri

Setelah menikah dengan Soekarno, menjadi Ibu Negara merupakan peran yang sangat berat dan penting bagi Fatmawati.

Ia harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dan terpisah dari Bung Karno untuk menghindari penangkapan.

Fatmawati jadi pejuang kemerdekaan

Selama masa memperebutkan kemerdekaan, Fatmawati berperan ganda. Selain sebagai Ibu Negara, ia juga berperan dalam menyiapkan dan memberikan ransum untuk pejuang di pasukan terdepan medan pertempuran.

Tidak saja urusan makan, Fatmawati kerap juga menjadi orator ulung untuk menyemangati rakyat dan pejuang merebut kemerdekaan.

Kepiawaian berorasi Fatmawati ini membuat Bung Karno makin bangga dan mencintai Fatmawati. Bahkan, saat pasca-kemerdekaan.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Server
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved