Benarkah Bayi Tak Ingat Pernah Diajak Berwisata?

Bayi dianggap belum memiliki kemampuan mengingat pada saat itu. Sehingga mengajak anak traveling saat bayi, banyak dipandang sebagai hal sia-sia.

Editor: Geafry Necolsen
net
Bayi Traveling 

Benarkah Bayi Tak Ingat Pernah Diajak Berwisata?

TRIBUNKALTIM.CO, WIKI - Banyak yang menganggap, traveling dengan bayi tidak akan memberikan pengaruh apa-apa pada hidupnya kelak.

Bayi dianggap belum memiliki kemampuan mengingat pada saat itu. Sehingga mengajak anak traveling saat bayi, banyak dipandang sebagai sesuatu yang sia-sia.

Mengkonfirmasi hal tersebut, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi, psikolog anak dan keluarga. Anna menceritakan, bahwa mengajak anak dikala mereka masih berusia balita, maka memang sangat memungkinkan apabila mereka sama sekali tidak mengingat tentang perjalanan yang telah dilalui.

Bayi Menangis Berjam-jam? Ini Penyebabnya

Seorang Bayi Baru Lahir, Hasil Transplantasi Rahim Orang Mati

“Kalau menurut berbagai penelitian dan beberapa ahli, anak baru mulai mengingat pengalamannya di atas usia 4 tahun. Jadi memang sangat mungkin ia lupa,” tuturnya.

Namun Anna menyebut, bahwa segalanya tidak ada yang percuma termasuk membawa bayi traveling.

Anna menyebutkan tentang beberapa manfaat yang bisa didapat ketika mengajak bayi traveling, diantaranya adalah menciptakan hubungan yang mesra antara bayi dengan orang tuanya.

“Traveling dengan bayi membuat bayi terus berada bersama ortunya, dan ini membuat ia lebih nyaman. Hubungan mesra bisa tercipta, dan ini adalah fondasi bagi tumbuh kembang yang optimal.”

Anna juga menekankan bahwa yang paling penting bukan kemana tujuan orang tua dan bayi berlibur, namun kenyamanan bayi dengan orang tuanya lah yang penting.

“Yang paling penting buat bayi adalah nyaman dengan ortunya. Bukan masalah sedang ada di mana, mau ngapain ortunya, dan sebagainya,” katanya.

Lebih lanjut, Anna juga memberikan contoh manfaat lain mengajak bayi traveling, diantaranya adalah saat ia telah dewasa, foto-foto perjalanannya bisa ditunjukkan kembali.

“Foto-foto itu bisa ditunjukkan kepadanya ketika ia sudah besar nanti, sambil menyampaikan bahwa ia pernah ke tempat tersebut,” katanya.

Selain itu, Anna berpendapat pula bahwa traveling mampu membuat orang tua nyaman dan bahagia. Kebahagiaan tersebut juga bisa tertular kepada sang anak.

“Efek yang rada langsung sih semacam kebanggaan karena ia pernah mengunjungi berbagai tempat. Itupun kalau kepadanya ditunjukkan dan diceritakan foto-foto perjalanannya.

Namun ada juga efek-efek lainnya seperti punya kedekatan dengan ortu, wawasan lebih luas, cenderung lebih fleksibel (karena kan di tiap tempat ada perbedaan), biasanya jadi menguasai lebih dari 1 bahasa, dan sebagainya,” kata Anna.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved