Pengetahuan

Menggunakan BBM Oktan Tinggi, Tidak Selalu Baik untuk Mesin

Dengan turunnya harga jual BBM tersebut, membuat orang-orang tertarik menggunakan Pertamax atau Pertamax Turbo.

Editor: Geafry Necolsen
Kompas
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum 

Menggunakan BBM Oktan Tinggi, Tidak Selalu Baik untuk Mesin

TRIBUNKALTIM.CO, WIKI - Awal tahun 2020, PT Pertamina telah melakukan penyesuaian harga BBM jenis solar dan bensin.

Harga BBM Pertamax dari sebelumnya Rp 9.850 per liter menjadi Rp 9.200 per liter, sementara Pertamax Turbo dari sebelumnya Rp 11.200 menjadi Rp 9.900 per liter.

Dengan turunnya harga jual BBM tersebut, membuat orang-orang tertarik menggunakan Pertamax atau Pertamax Turbo.

Perbedaan Pertamax, Pertalite, dan Premium

Sejarah BMKG, Tugas dan Fungsinya

Sejarah Empat Serangkai: Tokoh, dan Kiprahnya

Lantas, apa sih efek menggunakan BBM dengan oktan lebih tinggi?

Menurut Tri Yuswidjajanto Zaenuri, ahli konversi energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung, mengatakan jika setiap kendaraan telah memiliki hitungan rasio kompresi mesin.

Hasil dari hitungan tersebut menentukan jenis BBM yang harus digunakan.

“Tinggal disesuaikan saja dengan data spek, tapi kalau pakai bahan bakar dengan oktan yang terlalu tinggi justru tidak baik untuk kendaraan yang tidak sesuai,” ujarnya.

Sebagai contoh, mobil dengan rasio kompresi mesin di atas 10:1 harusnya sudah pakai RON 92 atau setara Pertamax.

Agar Tak Cidera, Kenali Ciri-Ciri Ular Berbisa

8 Cara Mengatasi Gigitan Ular Kobra

Sementara untuk yang di atas 11:1 atau 12:1 tentu harus pakai yang oktan lebih tinggi. Untuk mobil-mobil keluaran tahun 2000-an ke bawah, biasanya rasio kompresi mesin masih rendah.

Sekitar 9:1 ke bawah, dan butuh BBM dengan RON 88 atau setara Premium.

“Kalau mobil lawas dengan kompresi rendah seperti itu, pakai oktan tinggi justru tidak baik. Karena pasti ada sisa-sisa bahan bakar yang enggak terbakar,” kata Yus.

Ia menambahkan, bahan bakar yang tidak terbakar ini bisa saja masuk ke komponen mesin, hingga tercampur dengan oli.

Hal ini tentu bisa berbahaya, apalagi kalau didiamkan dan makin menumpuk. “Lebih baik ikuti anjuran pabrikan, karena mereka yang telah mengatur engine management seperti apa, kompresinya, dan lain-lain,” ucapnya.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved